Senandung di Balik Kabut
Kabut pagi itu tebalnya bukan main. Seperti tirai kelabu yang menutupi seluruh desa. Sunyi senyap, hanya desiran angin yang sesekali berbisik di antara pepohonan. Aku, Arini, seorang penulis novel misteri, sedang mencari inspirasi di desa terpencil ini. Desa yang konon menyimpan banyak cerita kelam.
"Desa ini menyimpan rahasia," kata Pak Karto, pemilik penginapan tempatku menginap, dengan mata menerawang. "Dulu, ada seorang gadis yang hilang di balik kabut ini. Tak pernah ditemukan."
Kata-kata Pak Karto itu seperti cambukan yang memicu rasa penasaranku. Hilangnya gadis itu, senandung misterius yang sering kudengar di balik kabut, dan tatapan aneh penduduk desa, semuanya seperti potongan puzzle yang menanti untuk disusun.
Aku mulai menyelidiki. Menyusuri jalan setapak yang berkelok, bertanya pada setiap orang yang kutemui. Tapi, semakin dalam aku mencari, semakin banyak kejanggalan yang kutemui. Ada yang berbisik tentang kutukan, ada yang menunjuk ke arah hutan terlarang, dan ada pula yang memilih bungkam, seolah menyimpan ketakutan mendalam.
Suatu malam, aku mengikuti senandung itu. Suaranya merdu, namun menyimpan kesedihan yang mendalam. Kabut semakin tebal, membuatku sulit melihat. Tiba-tiba, aku menemukan sebuah gubuk tua di tengah hutan. Di dalamnya, ada seorang wanita tua yang sedang duduk di kursi goyang. Ia menatapku dengan mata sayu.
"Kamu mencari tahu tentang gadis itu?" tanyanya dengan suara serak.
Aku mengangguk. Wanita itu tersenyum pahit. "Dia adalah cucuku. Dia tidak hilang. Dia... diambil."
"Diambil siapa?" tanyaku, jantungku berdebar kencang.
Wanita itu menunjuk ke arah lukisan besar di dinding. Lukisan seorang pria dengan mata merah menyala. "Olehnya. Pangeran Kabut."
Aku tertawa sinis. Pangeran Kabut? Kedengarannya seperti cerita dongeng. Tapi, wanita itu menatapku dengan serius. "Dia nyata. Dia tinggal di balik kabut, dan dia mengambil jiwa-jiwa yang tersesat."
Aku masih skeptis, tapi bulu kudukku meremang. Ada sesuatu yang aneh dengan tempat ini. Suasana mistisnya terlalu kuat untuk diabaikan.
Malam berikutnya, aku kembali ke gubuk itu. Wanita itu memberiku sebuah kalung dengan liontin batu hitam. "Ini akan melindungimu," katanya. "Tapi, jangan pernah menatap matanya."
Aku mengenakan kalung itu dan kembali ke desa. Kabut semakin tebal, dan senandung itu semakin dekat. Tiba-tiba, seorang pria muncul dari balik kabut. Matanya merah menyala, persis seperti di lukisan.
"Kamu milikku," katanya dengan suara dingin.
Aku mundur ketakutan. Pangeran Kabut itu nyata. Dan dia menginginkanku.
Aku berlari, tapi dia mengejarku. Senandung itu berubah menjadi jeritan mengerikan. Aku hampir menyerah, ketika aku teringat kata-kata wanita tua itu. Jangan menatap matanya.
Aku memejamkan mata dan terus berlari. Aku bisa merasakan kehadirannya di belakangku, napasnya yang dingin menyentuh leherku. Tiba-tiba, kalungku terasa panas. Aku berteriak, dan Pangeran Kabut itu menghilang.
Aku terjatuh, terengah-engah. Kabut mulai menipis, dan senandung itu kembali merdu. Aku menoleh, dan melihat seorang gadis berdiri di kejauhan. Dia tersenyum padaku, lalu menghilang ke dalam kabut.
Aku kembali ke penginapan, dan menceritakan semuanya pada Pak Karto. Dia terdiam, lalu berkata, "Gadis itu... dia adalah cucu wanita tua itu. Dia dikembalikan oleh Pangeran Kabut, karena dia tidak tahan dengan kebaikan hatimu."
Aku terdiam. Jadi, Pangeran Kabut tidak sejahat yang kukira. Dia hanya kesepian, dan menginginkan teman. Tapi, dia tidak tahu cara mendapatkannya dengan benar.
Aku memutuskan untuk menulis novel tentang pengalamanku di desa ini. Novel tentang seorang pangeran yang kesepian, seorang gadis yang hilang, dan seorang penulis yang menemukan kebenaran di balik kabut.
