Aroma Robusta di Sudut Malioboro
Hembusan angin malam Malioboro membawa serta beragam aroma: bunga melati dari pedagang kaki lima, gurihnya sate kere yang dibakar, dan yang paling membekas di benakku, aroma kopi robusta yang selalu menyeruak dari sebuah kedai kecil di sudut jalan. Kedai kopi itu sederhana, hanya bermodalkan gerobak kayu dan beberapa bangku plastik, namun bagi seorang perantau sepertiku yang sedang bergulat dengan kerasnya kehidupan kuliah di Yogyakarta, tempat itu adalah oase. Dan di balik gerobak kopi itulah, aku pertama kali melihatnya.
Namanya Risa. Tangannya cekatan menakar bubuk kopi, menuangkan air panas dengan gerakan memutar yang menghasilkan aroma magis, dan senyumnya… senyumnya adalah perpaduan antara kehangatan mentari pagi dan ketenangan rembulan malam. Pertemuan pertama kami terjadi saat aku memesan kopi hitam tanpa gula, mencoba terlihat kuat di tengah perut keroncongan akibat tanggal tua. Risa menyodorkan cangkir kopi dengan senyum ramah.
"Selamat menikmati, Mas," ucapnya, suaranya lembut seperti bisikan angin.
Sejak saat itu, kedai kopi Risa menjadi tempat persinggahanku hampir setiap malam. Bukan hanya karena kopinya yang nikmat dan harganya yang bersahabat dengan kantong mahasiswa, tapi lebih karena kehadiran Risa. Kami mulai bertukar cerita, awalnya tentang kopi, lalu merambah ke buku, musik, dan akhirnya, tentang mimpi dan harapan masing-masing.
Risa bercerita tentang mimpinya untuk mengembangkan kedai kopinya menjadi sebuah kafe kecil yang nyaman, tempat orang bisa berbagi cerita dan kehangatan. Aku bercerita tentang cita-citaku menjadi seorang arsitek yang bisa membangun rumah impian bagi banyak orang. Di bawah rembulan Yogyakarta yang seringkali malu-malu bersembunyi di balik awan, kami merajut mimpi bersama, seolah benang takdir sudah mulai terjalin di antara kami.
Ada kehangatan yang tumbuh di antara kami, perlahan namun pasti, seperti api kecil yang lama kelamaan menjadi kobaran semangat. Aku menyukai caranya tertawa saat aku melontarkan lelucon garing, aku menyukai matanya yang berbinar saat bercerita tentang kopi, dan aku sangat menyukai saat ia menatapku dengan tatapan yang penuh pengertian.
Suatu malam, setelah kedainya tutup dan jalanan Malioboro mulai lengang, kami duduk berdua di bangku plastik, menikmati sisa-sisa aroma kopi dan keheningan malam. Aku memberanikan diri menggenggam tangannya. Jantungku berdegup kencang seperti tabuhan gamelan saat pentas wayang kulit. Risa membalas genggamanku, dan dalam keheningan itu, aku tahu bahwa perasaan kami sudah lebih dari sekadar teman.
"Risa," kataku pelan, "aku… aku menyukaimu."
Risa menatapku dengan mata yang lembut. "Aku juga, Mas," jawabnya dengan senyum yang membuat hatiku terasa menghangat.
Malam itu menjadi awal dari kisah cinta kami. Kami menghabiskan lebih banyak waktu bersama, bukan hanya di kedai kopi, tapi juga menjelajahi sudut-sudut indah Yogyakarta, dari Candi Prambanan yang megah hingga pantai Parangtritis yang eksotis. Setiap momen bersamanya terasa berharga, seperti butiran embun yang berkilauan di bawah sinar matahari.
Namun, kebahagiaan tidak selalu berjalan mulus. Aku harus kembali ke kota asalku setelah lulus kuliah, meninggalkan Yogyakarta dan Risa. Jarak membentang di antara kami, menguji ketulusan cinta yang telah kami rajut.
Kami berjanji untuk menjaga komunikasi, saling menelepon dan berkirim pesan setiap hari. Rindu seringkali menyelimuti, terutama saat aku mencium aroma kopi yang tidak sama dengan racikan Risa. Yogyakarta terasa jauh, dan Risa terasa semakin jauh.
Suatu hari, Risa menghubungiku dengan suara yang terdengar berbeda. Ada nada sedih yang terselip di antara kata-katanya. Kedai kopinya harus digusur karena ada proyek pembangunan jalan. Mimpinya untuk memiliki kafe kecil terasa pupus.
Hatiku ikut merasakan kepedihan Risa. Aku ingin berada di sampingnya, memberikan dukungan dan semangat, tapi jarak memisahkannya. Aku hanya bisa menguatkannya melalui telepon, berharap ia tidak kehilangan harapan.
Beberapa bulan berlalu tanpa kabar yang menggembirakan. Aku fokus pada pekerjaanku, berusaha menata masa depan. Komunikasi dengan Risa semakin jarang karena kesibukan masing-masing. Perlahan, rasa rindu itu bercampur dengan rasa khawatir.
Hingga suatu ketika, aku memutuskan untuk kembali ke Yogyakarta. Aku ingin melihat Risa, ingin memastikan keadaannya baik-baik saja. Setibanya di sana, aku langsung menuju sudut jalan tempat dulu berdiri kedai kopinya. Tempat itu kini rata dengan tanah, hanya menyisakan kenangan tentang aroma kopi dan senyum seorang gadis.
Aku mencoba mencari informasi tentang Risa dari teman-teman lamanya, namun tidak ada yang tahu ke mana ia pergi. Seolah ditelan bumi, Risa menghilang tanpa jejak.
Hatiku terasa hancur berkeping-keping. Aku merasa kehilangan separuh jiwaku. Kenangan tentang Risa dan aroma kopi di sudut Malioboro terus menghantuiku. Aku mencoba merelakan, tapi bayangannya selalu hadir dalam setiap cangkir kopi yang kuminum.
Bertahun-tahun kemudian, aku berhasil meraih impianku menjadi seorang arsitek. Aku memiliki kantor sendiri dan proyek-proyek yang sukses. Namun, di balik kesuksesan itu, selalu ada ruang kosong di hatiku, ruang yang dulu pernah diisi oleh Risa.
Suatu sore, saat aku sedang menikmati kopi di sebuah kafe dengan desain yang unik, mataku tak sengaja tertuju pada seorang wanita yang sedang melayani pelanggan di balik bar. Ada sesuatu pada gerak-geriknya yang terasa familiar. Aku memperhatikannya lebih seksama.
Rambutnya masih panjang, meskipun kini tertata lebih rapi. Senyumnya… senyum itu! Aku langsung mengenali senyum itu. Itu Risa.
Jantungku berdebar kencang. Aku bangkit dari tempat dudukku dan menghampirinya dengan langkah ragu.
"Risa?" panggilku pelan.
Wanita itu menoleh, dan matanya membulat karena terkejut. "Mas…?"
Kami saling bertatapan, seolah waktu telah berhenti berputar. Ada kebahagiaan yang tak terhingga terpancar dari mata kami. Kami berpelukan erat, meluapkan semua rindu yang selama ini terpendam.
Ternyata, setelah kedai kopinya digusur, Risa tidak menyerah pada mimpinya. Dengan modal seadanya, ia mencoba peruntungan di kota lain, bekerja di berbagai kafe untuk mengumpulkan modal dan belajar tentang manajemen. Kafe tempat aku bertemu dengannya ini adalah hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
"Aku tidak ingin mimpiku hanya sebatas gerobak kopi di pinggir jalan, Mas," katanya sambil tersenyum bangga. "Aku ingin punya tempat yang nyaman, tempat orang bisa menikmati kopi berkualitas sambil berbagi cerita."
Malam itu, kami menghabiskan waktu berjam-jam untuk saling bercerita tentang apa yang telah terjadi selama bertahun-tahun kami terpisah. Rasa cinta di antara kami ternyata tidak pernah pudar, hanya tertidur sejenak oleh jarak dan waktu.
Ternyata, alasan Risa tidak bisa menghubungiku setelah kedai kopinya digusur adalah karena ponselnya hilang bersamaan dengan penggusuran tersebut. Ia mencoba mencariku melalui media sosial, namun dengan nama yang pasaran, ia kesulitan menemukanku. Ia tidak tahu alamat atau nomor teleponku yang baru. Pertemuan kami di kafe itu benar-benar sebuah kebetulan yang manis, seperti dua biji kopi yang akhirnya bertemu dalam satu gilingan setelah terpisah jauh. Aroma robusta di sudut Malioboro memang telah hilang, namun aroma cinta kami justru semakin menguat di sudut kafe yang baru ini.
.png)